Gaya Baru Mencari Rupiah

Akar info - Gaya Baru Mencari Rupiah

Pemenuhan kebutuhan dasar hidup manusia menjadi pijakan untuk mencapai keseimbangan dalam menjalani hidup. Adapun yang dimaksud dengan kebutuhan dasar hidup manusia adalah makan dan minum. Setiap orang akan berasumsi bahwa jika mereka tidak makan dan minum, maka mereka tidak akan bisa bertahan dan menjalani hidup untuk seterusnya. Oleh karena itu, untuk pemenuhan tersebut, banyak cara yang dilakukan oleh semua orang, seperti bekerja untuk menghasilkan uang yang nantinya akan digunakan untuk membeli kebutuhan dasar itu sendiri. Ada yang kerja sebagai pegawai kantoran, supir, kuli, dan bahkan ada juga yang menggunakan cara meminta-minta (mengemis) meski kondisi fisik mereka bagus.

[baca juga: Fenomena Mengemis Jadi Bisnis]

Profesi mengemis

Tidak adanya skill atau pun faktor lain yang mendukung untuk mendapatkan kerja yang layak, sedangkan kebutuhan hidup semakin mendesak menjadikan orang-orang di negeri ini berprofesi sebagai pengemis atau peminta-minta. Kalau dulu kita sering melihat orang-orang meminta-minta di sekitar lampu merah, tempat beribadah atau tempat ramai lainnya yang terbilang strategis untuk menghasilkan uang dengan hanya menjulurkan tangan dan bermodalkan pakaian compang-camping. Tapi sekarang, kita bisa melihat orang-orang tersebut datang kerumah-rumah atau kos-kosan dengan membawa amplop yang bertuliskan “untuk membeli peralatan sekolah” atau ada juga yang bertuliskan “untuk membeli makan dan minum”. Meminta-minta dengan gaya baru ini tidak hanya akan kita jumpai di rumah-rumah atau di tempat kos saja, melainkan juga bisa kita jumpai di depan mesin-mesin ATM yang ada di beberapa kota. Biasanya orang-orang ini akan memberikan amplop kepada orang yang akan mengambil uang di mesin ATM tersebut.

Meminta-minta dengan gaya baru ini dirasa cukup efektif oleh mereka dari pada harus menjulurkan tangan yang hasilnya hanya uang receh. Hasil dari meminta-minta dengan menggunakan amplop terbilang lumayan sehingga gaya seperti ini telah menjadi trend terbaru dikalangan pengemis. Orang cenderung akan berperilaku yang sama dengan yang lainnya jika perilaku tersebut dirasa nyaman oleh orang yang merasakannya dan akan menjadi perilaku yang menetap. Meminta-minta dengan motif amplop ini tidak hanya dirasa efektif saja, melainkan juga terkesan menjaga harga diri mereka. Pengemis yang menggunakan cara demikian terlihat tidak seperti mengemis atau meminta belas kasihan orang lain melainkan terkesan sekedar menarik sumbangan.

Pandangan Agama terhadap "mengemis"

Islam tidak menganjurkan kegiatan meminta-mita dengan cara berbohong atau menipu. Hal tersebut dikarenakan bukan hanya dinilai sebagai perbuatan dosa, melainkan juga dianggap merampas hak kaum miskin yang notabene benar-benar mebutuhkan bantuan.

Terdapat beberapa hadist yang menjelaskan haramnya meminta-minta dengan cara menipu, salah satunya adalah sebagai berikut:

مَا زَالَ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.
"Seseorang Senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya" (Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma).

Upaya pemerintah

Semakin meningkatnya angka pengemis di negeri ini bukan tidak luput dari perhatian pemerintah pusat atau pun daerah. Telah banyak cara yang dilakukan oleh pemerintah seperti implementasi program-program untuk menekan angka kemiskinan bahkan sampai pada razia-razia terhadap orang-orang yang berprofesi sebagai pengemis. Hanya saja apa yang dilakukan pemerinta seperti razia mendapat respon negative dari masyrakat karena hal tersebut dinilai kurang manusiawi.

Pada dasarnya untuk mengurangi angka pengemis di negeri ini, tidak harus menunggu atau menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Dengan tidak memberikan uang kepada mereka yang secara fisik masih sehat dan kuat juga bisa mengurangi tingkat angka pengemis di negeri ini. Perilaku yang dimunculkan oleh mereka (pengemis) merupakan perilaku adiktif atau perilaku yang terus menerus akibat dari ketergantungan pelakunya. Dengan memberikan uang kepada mereka yang terkesan masih sehat dan kuat secara fisik akan menghadirkan rasa nyaman dalam diri mereka sehingga mereka akan mengalami ketergantung kepada orang lain meskipun mereka masih terbilang mampu. Oleh karena itu, perlu sekali bagi kita untuk tidak mudah memberikan uang atau sedekah kepada orang-orang yang tidak seharusnya menerima uang atau sedekah tersebut, karena masih banyak yang lebih membutuhkan seperti panti-panti jompo atau panti asuhan yang ada di sekitar kita.

0 komentar