Jangan Berhenti Mencitai Indonesia

Akar inf - Jangan Berhenti Mencitai Indonesia

-Kekuasaan dan Korupsi-


Judul di atas telah dipopulerkan oleh mantan Menteri keuangan Negara Republik Indonesia di kabinet Indonesia bersatu ke-1, masa presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, yaitu Sri Mulyani Indrawati dalam gest lecturenya di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D), tahun 2010, di Jakarta. Sri Mulyani membeberkan tentang banyak hal adanya konflok kepentingan dan etika kebijakan publik di tingkatan birokrat, mulai dari hulu (upstream) sampai hilir (ritel). Menurutnya kekuasaan itu identik dengan korupsi, dimana ada kekuasaan pasti ada korupsi.

Melihat prolog di atas, kita sudah tahu bahwa bangsa ini tengah mengalami penyakit korupsi yang akut, dan hal itu nyata ada di depan kita. Kini korupsi tidak hanya dilakukan secara sendiri, melainkan dari fakta-fakta yang ada dalam banyak berita, korupsi dilakukan secara berjamaah (terorganisir). Lembaga-lembaga semisal lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif tidak terlepas dari rayuan sang 'aktor' untuk bersama-sama melakukan korupsi, dan tak terkecuali Komisi Pemberantasan Korupsi yang dilaporkan oleh Nazarudin (tersangka kasus wisma atlet).

terbukanya bobrok penguasa


Tahun 2011 adalah tahun terbukanya bobrok penguasa negeri ini. Demokrat sebagai partai yang berkuasa tengah tertimpa musibah besar yakni terlibatnya beberapa oknum petinggi partai dalam kasus suap dan korupsi yang disinyalir melibatkan oknum-oknum berbagai lembaga terhormat negeri ini. Oknum lembaga tersebut disinyalir memiliki hubungan kuat dengan kasus wisma atlet sesuai apa yang disebutkan oleh Nazaruddin dalam wawancaranya dengan wartawan Iwan Piliang lewat komunitas skype. Dalam kasus ini nyaris mengalami defisit kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan presiden SBY yang juga ketua dewan partai penguasa negeri ini. Survey Indo Barometer yang dipublikasikan pada minggu (15/5/2011) mengungkapkan sebesar 40.9 persen responden mempersepsikan bahwa orde baru lebih baik dari pada orde reformasi ini yang hanya mendapatkan 22,8 persen dari responden yang mengatakan orde reformasi lebih baik. Artinya, survey itu menunjukkan terdelegitimasinya pemerintahan SBY karena kepercayaan masyarakat menurun.

Defisit kepercayaan Masyarakat terhadap pemerintah menyebabkan sebagian masyarakat pesimis memandang bangsa ini lebih maju. Ketidak percayaan masyarakat terhadap pemerintah menghasilkan satu frame bahwa bangsa ini dilanda masalah sangat besar, yakni krisis kepercayaan. Krisis kepercayaan yang dialami bangsa ini akan sangat berpengaruh kepada keberlangsungan kehidupan generasi muda di masa-masa yang akan datang.

Konflik kepentingan dan iklim politik yang tidak sehat mewarnai lembaga pemerintah. Generasi muda pun demikian. Generasi muda seperti mahasiswa di Jakarta dan di daerah-daerah lain tak henti-hentinya mengkritisi pemerintah dengan salah satu caranya berdemonstrasi. Ketidak percayaan mahasiswa terhadap pemerintah bagaikan badai yang tiba-tiba menghantam. Mereka bergerak atas kejujuran dan nurani. Namun Anis Baswedan (founder pengajar muda), dalam akun twitternya mengingatkan generasi muda harus kritis-optimis, yakni mengkritik dan memberikan solusi bukan mengkritik hanya membahas kegagalan demi kegagalan.

Carut-marutnya bangsa ini, perlu diakui, ada sebagian masyarakat kecewa atas pemimpin-pemimpin negeri ini, namun sebagai generasi muda kita tidak pantas untuk putus asa meskipun persoalan bangsa menghantui disetiap detik kita bernafas. Seorang panglima angkatan laut Amerika Stephen Decatur mengatakan "our country, right or wrong", artinya tatkala negara benar maka perlu dipertahankan, dan apabila sedang salah / mengalami kegagalan maka haruslah dibenahi. Begitulah jiwa patriotisme Decatur yang ditunjukkan pada negaranya. Dan "jangan pernah berhenti mencintai Indonesia" menjadi kalimat yang harus ditanamkan pada diri generasi muda agar tidak mudah kecewa dalam perjuangannya dan tidak henti-hentinya mengobarkan kecintaan pada negerinya.

0 komentar