Kreativitas Anak Terpasung Oleh Metode Pembelajaran di Sekolah

Akar info - Kreativitas Anak Terpasung Metode Pembelajaran

Sekolah merupakan wadah untuk seseorang dalam mempelajari ilmu pengetahuan

sekolah juga merupakan tempat awal dari seseorang untuk menggali dan meningkatkan potensi yang dimiliki. Oleh karena itu, untuk meningkatkan potensi yang dimiliki peserta didik atau siswa, maka dibutuhkan metode yang tepat. Terbilang semua sekolah yang ada di Indonesia menggunakan metode ceramah dalam proses belajar mengajarnya. Dimana metode pembelajaran ini menekankan agar guru berperan aktif, sedangkan peserta didik atau siswa berperan pasif.

Secara etimologi metode memiliki arti “cara”. Sedangkan menurut istilah, metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis. Adapun yang dimaksud dengan metode belajar ialah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran.

Metode pembelajaran di sekolah saat ini terbilang kurang efektif dan efisien, hal ini terjadi karena metode pembelajarannya yang keliru, metode pembelajaran yang dipakai menuntut peserta didik atau siswa untuk mengerti dan memahami sebagaimana guru memahami, padahal bisa saja pemahaman peserta didik atau siswa lebih bagus dari pada gurunya. Lebih parahnya lagi, dalam metode pembelajaran yang dipakai, guru berperan aktif sedangkan peserta didik atau siswa pasif, yaitu dengan mengunakan metode ceramah, hal ini bisa memasung kreatif dan potensi yang dimiliki oleh peserta didik atau siswa.

Berangkat dari kesalahan dalam metode pembelajaran tersebut banyak kasus yang terjadi pada saat Ujian Akhir Nasional (UAN), terdapat banyak kecurangan yang terjadi seperti prilaku menyontek yang dilakukan oleh peserta didik sendiri serta bentuk kecurangan seperti guru yang memberikan bocoran jawaban, padahal tujuan dari UAN itu adalah untuk mengukur dan meningkatkan kemampuan yang dimiliki peserta didik atau siswa. Sedangkan perilaku antar siswa dan guru menunjukan tidak adanya sinkronisasi dengan tujuan diadakanya UAN itu sendiri.

Masalah pengembangan kreativitas anak terus menjadi pembicaraan para ahli pendidikan, khususnya pada pendidikan anak prasekolah dan terus dilakukan penelitian khususnya yang menyangkut pengoptimalan fungsi belahan otak kanan sebagai fungsi kreativitas dan imajinasi anak. Atas dasar
asumsi ini, maka pengembangan kreativitas menjadi sangat penting dibangun pada pendidikan anak usia dini. Oleh karena itu, sangat penting sekali pemberian metode pembelajaran yang tepat terhadap anak, agar nantinya kreatifitas yang ada dalam diri anak dapat dikembangkan. 

Realita yang ada kadang-kadang sebaliknya, pemilihan jenis metode pembelajaran dimaksudkan agar anak belajar menerima apa yang diberikan tutor/pendidik, belajar secara mekanik, materi seragam, sesuai pola yang telah disepakati, tanpa memberikan kebebasan kepada anak untuk berkreasi, berimajinasi, berfantasi, berinovasi sesuai dengan kekuatan dan keunikan anak. Akibatnya, ketika anak kurang dapat melakukan sebagaimana tuntutan tugas yang diberikan oleh pendidik, maka hal tersebut diterima oleh anak sebagai tekanan psikologis dan sering menimbulkan rasa harga diri kurang serta menjadikan motivasi bermain anak lemah. Untuk itu perlu adanya alternatif pemilihan penggunaan metode pembelajaran yang lebih konstruktif, menekankan kepada kebebasan anak baik secara individu dan kelompok yang diliputi oleh motivasi bermain.

Saatnya pengembangan kreativitas anak dalam pembelajaran pada anak usia dini memperoleh perhatian sehingga dapat mengembangkan berfungsinya kedua belahan otak secara seimbang. Pembelajaran yang mengendalikan berfungsinya kedua belahan otak secara seimbang akan 
banyak membantu anak berprakarsa mengatasi dirinya, meningkatkan prestasi belajar sehingga mencapai kemandirian dan mampu menghadapi berbagai tantangan.

Untuk menunjang keberhasilan dalam proses belajar mengajar, maka sangat diperlukan sekali untuk merubah metode pembelajaran yang ada di sekolah-sekolah dengan menggunakan metode yang bisa menggali kreatifitas anak dan tidak meggunakan metode yang menjadikan peserta didik sebagai pendengar yang pasif dengan keterpasungan kreatifitas serta potensi dalam dirinya. Jika semua sekolah yang ada di Indonesia mengaplikasikan metode yang bisa menggali potensi serta membangun kreatifitas peserta didiknya, maka harapan akan keberhasilan dalam proses belajar mengajar akan tercapai secara maksimal, dan potensi peserta didik akan semakin terasah

0 komentar