Potret Buram Kualitas Anak Bangsa

Akar info - Potret Buram Kualitas Anak Bangsa

Kenaikan harga bahan pokok

selalu dirasakan oleh masyarakat setiap tahunnya. Mahalnya kebutuhan hidup, sudah menjadi salah satu indikator anak putus sekolah. Kenapa tidak, kebanyakan masyarakat lebih memilih untuk mengeluarkan anak-anak mereka dari sekolah untuk mengurangi beban biaya hidup yang mereka hadapi. Kehilangan bangku sekolah, memaksa anak-anak bekerja dengan alasan untuk membantu perekonomian orang tua mereka dengan cara turun kejalanan atau ke tempat-tempat ramai seperti terminal ataupun pasar-pasar. Mereka hampir tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan normal seorang anak.

Ironis sekali, dimana anak-anak yang seharusnya manikmati masa keemasan yang membahagiakan, harus turun kejalanan sekitaran lampu merah atau tempat ramai lainnya hanya untuk membantu orang tua mereka mencari nafkah dan mau tidak mau juga harus putus sekolah demi membantu keuangan keluarga. Banyak cara yang dilakukan oleh anak-anak tersebut untuk menghasilkan rupiah, diantaranya adalah dengan berdagang asongan semisal permen, rokok, dan minuman, ada juga yang menjadi pengecer Koran, pengamen, dan bahkan ada yang menjadi pengemis. Anehnya lagi, para orang tua merasakan bahwa anaknya lebih berguna untuk mengerjakan pekerjaan tersebut dari pada harus sekolah.

Kebutuhan dasar tumbuh kembang anak

Pada dasarnya, ada beberapa kebutuhan dasar untuk tumbuh kembang anak yang selayaknya terpenuhi, diantaranya:

1. kebutuhan asuh

- kebutuhan asuh atau biasa juga disebut kebutuhan biomedis yang meliputi kebutuhan akan nutrisi dan kesehatan. Selain itu, Asuh juga meliputi kebutuhan tempat tinggal, pakaian yang nyaman dan imunisasi. 

2. kebutuhan asih

- kebutuhan asih atau juga kita kenal dengan kebutuhan emosional, meliputi kebutuhan akan ikatan emosional antara orang tua dan anak. Orang tua harus bisa memenuhi kebutuhan sang buah hati seperti perhatian, kasih sayang, mengajarkan tanggung jawab, dan kemandirian. Hal ini sangat penting untuk perkembangan emosional anak-anak. Dan yang terakhir 

3. kebutuhan asah

kebutuhan asah atau stimulasi mental dini meliputi kebutuhan akan stimulasi berupa pendidikan. Disaat anak berada pada masa keemasan (usia 4-5 tahun), kita harus sangat memperhatikan Asah. Karena hal tersebut diperlukan untuk tumbuh kembang otak anak-anak, semisal aspek visual, auditori, verbal, dan taktil.

Kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut, yang notabene sangat diperlukan sekali oleh anak-anak, seharusnya terpenuhi agar tumbuh kembang anak tidak mengalami hambatan baik dari segi fisik atau pun psikis. Namun jika dari kebutuhan tersebut tidak terpenuhi bukan tidak mungkin lagi kualitas psikomotoriknya patut diragukan. Bukankah masa depan suatu bangsa tergantung pada kualitas anak-anak sebagai generasi penerusnya. Jika kualitas anak saja patut untuk diragukan, maka bukan tidak mungkin masa depan bangsa perlu dihawatirkan.

Salah satu kasus tentang anak yang terpaksa bekerja yang banyak terjadi di masyarakat, seharusnya menjadi bahan perhatian seluruh kalangan khususnya pemerintah. Meningkatkan kualitas anak Indonesia bukan sekedar wacana yang perlu diperdebatkan lagi melalui seminar, ceramah, diskusi atau ajang pembicaraan lainnya. Melainkan juga dengan sebuah pergerakan yang pada nantinya melahirkan efek positif. Para petinggi-petinggi negara yang dibiayai oleh anggaran Negara selama ini yang seharusnya bekerja melayani masyarakat, terkesan menjadi lupa bahwa ada anak-anak di generasi selanjutnya yang menanggung akibat dari apa yang telah dilakukannya saat ini. Banyak yang tidak peduli lagi saat membicarakan masalah sosial dan kesejahteraan anak-anak karena ribut mempertahankan kekuasaan, sibuk bersembunyi atau menutup-nutupi kesalahan dengan kesalahan hingga lupa bahwa masih ada banyak anak-anak yang terlantar. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi Negara yang kaya akan SDA-nya namun miskin akan SDM-nya yang ujung-ujungnya menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang tertinggal.

0 komentar