Mahasiswa dan Tantangan Masa Depan

Mahasiswa dan Tantangan Masa Depan

Berawal dari sebuah pertanyaan seorang sahabat karib kepada teman-teman mahasiswa termasuk saya, tentang keberlanjutan setelah selesai menempuh kuliah S-1 (Strata I). 

Sebagian dari mahasiswa menjawab pertanyaan tersebut dengan santai, sebagian menjawab dengan penuh rasa percaya diri, dan sebagian lainnya menjawab dengan rasa bingung. Ada yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (S-2), ada yang memutuskan menikah saja, bahkan beberapa ada yang masih bingung mencari jawaban yang tepat.

Terlepas dari pertanyaan tersebut, semua pertanyaan yang terlontar merupakan proyeksi sikap masa depan yang akan dipikul oleh mahasiswa. Rasa optimis dan pesimis mahasiswa dalam memandang masa depan akan terproyeksi dari sikap yang mereka tunjukkan.

Mahasiswa yang identik dengan agen peruabahan, telah menisbatkan dirinya bahwa mereka harus bergifikir kritis dan kreatif. Selain mereka harus bertanggung jawab terhadap masa depan mereka sendiri, mereka juga dituntut bertanggung jawab atas masa depan bangsa. Sangatlah tepat jika terdapat statement bahwa masa depan bangsa berada pada genggaman generasi mudanya.

Pasca menempuh S-1, merupakan masa transisi dimana mahasiswa berada pada proses memilah dan memilih suatu hal yang nantinya mereka akan berfokus di dalam bidang tersebut. Namun tidak jarang sekali mahasiswa yang tidak mengimplementasikan keilmuannya sesuai dengan bidang yang mereka tekuni. Hal tersebut tidak terlepas dari banyaknya mahasiswa lulusan S-1 dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, ramai-ramai mencari pekerjaan, sehingga bagi mereka yang tidak kebagian pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang ditekuni, akan banting setir memilih pekerjaan seadanya.

[baca juga : Wisudawan Calon Pengangguran]

Perguruan tinggi yang mendidik mahasiswanya harus berfungsi memberikan jawaban atas tantangan-tantangan masa depan mahasiswanya. Perguruan tinggi yang ideal adalah perguruan tinggi yang bertanggung jawab atas kelulusan mahasiswanya bukan pada konteks menanggung semua pekerjaan kelulusan mahasiswa, melainkan pada rangsangan yang diberikan perguruan tingg (baca: tenaga pengajar / dosen), terhadap mahasiswa untuk selalu berpikir kreatif.

Menghayati Tri Dharma Perguruan Tinggi

Eksistensi perguruan tinggi memiliki kedudukan dan fungsi penting dalam perkembangan suatu masyarakat. Proses perubahan sosial (Social Change) di masyarakat yang begitu cepat, menuntut agar kedudukan dan fungsi perguruan tinggi itu benar-benar terwujud dalam peran yang nyata. Peran perguruan tinggi tersebut tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, Yaitu : Dharma pengajaran dan pendidikan, Dharma penelitian, dan Dharma pengabdian masyarakat.

Dengan dharma pengajaran dan pendidikan, perguruan tinggi diharapkan melakukan peran pencerdasan masyarakat secara moral, spiritual, dan emosional. Denagn dharma penelitian, perguruan tinggi diharapkan menghasilkan pengetahuan empirik, teori, konsep, metodelogim, atai informasi baru yang memperkaya ilmu pengetahuan, tekhnologi, dan seni budaya. Dengan dharma pengabdian masyarakat, perguruan tinggi diharapkan melakukan pelayanan masyarakat untuk ikut mempercepat proses peningkatan, kesejahteraan dan kemajuan masyarakat.

Dalam perguruan tinggi, Tri Dharma ini harus dihayati secara seksama baik oleh mahasiswa atau pun tenaga pengajar atau dosen. Tri dharma perguruan tinggi tidak hanya diperkenalkan kepada mahasiswa ketika dilaksanakannya OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik), atau pun dalam bentuk mata kuliah yang diajarkan kepada mahasiswa. Walaupun itu membantu, namun belum bisa menjawab esensi dari tantangan masa depan mahasiswa.

Lebih dari itu, mahasiswa harus dirangsang oleh para dosen untuk berfikir kreatif. Rangsangan para dosen terhadap mahasiswa berperan sangat penting dalam proses pendidikan terutama merangsang mahasiswa untuk menghayati tri dharma perguruan tinggi, sehingga mereka mampu mengejewantahkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.

Franz Magnis Suseno (1999), menilai bahwa mahasiswa hanya mencerminkan dosen mereka. Jika mahasiwa tidak bisa berfikir kreatif, berarti dosen kurang bisa berfikir kreatif pula. Kenapa mahasiswa merasa kesulitan dalam menyampaikan pertanyaan, karena dosennya kurang mampu merangsang proses berfikir mahasiswanya. Jika mahasiswa semasa kuliah sudah terbiasa dirangsang oleh dosen-dosen untuk menghayati dan mepraktekkan tri dharma perguruan tinggi, tentunya jawaban dari pertanyaan di atas akan dijawab dengan rasa optimisme yang tinggi.

Embrio sikap merangsang mahasiswa dalam menghayati dan menerapkan tri dharma perguruan tinggi, harus dimiliki oleh para tenaga pengajar / dosen. Jika hal tersebut dilakukan, maka bukan tidak mungkin lagi tuga perguruan tinggi dalam pelaksanaan tri dharmanya akan berjalan sesuai dengan cita-cita bangsa.

0 komentar