Wisudawan Calon Pengangguran

Wisudawan Calon Pengangguran

Kata pengangguran

begitu riskan sekali untuk didengar oleh para mahasiswa yang lulus dan baru diwisuda. Kenapa tidak, karena terhitung tidak sedikit dari para wisudawan yang sudah dinyatakan lulus secara akademis masih harus menyandang status pengangguran. Sulitnya mencari pekerjaan akibat dari sedikitnya lowongan kerja yang tersedia mengharuskan mereka untuk berbesar hati menyandang status mereka yang baru. Berangkat dari permasalahan seperti ini, tidak sedikit pula dari para mahasiswa yang sudah semester akhir dan sudah waktunya lulus memilih untuk berlama-lama dibangku perkuliahan karena melihat tidak sedikitnya dari kakak tingkat mereka yang sudah diwisuda sebelumnya semakin mamperpanjang gerbong pengangguran di Negara ini.

Sedikitnya lowongan kerja yang ada sekarang merupakan salah satu factor penyebab terpuruknya nasib para wisudawan. Sangat memperihatinkan memang nasib wisudawan sekarang ini, dimana yang dari awal sudah mati-matian untuk mendapatkan nilai akademis yang bagus, harus dibayar dengan status yang sangat tidak diinginkan itu. Untuk menghilangkan status penganggurannya, tidak sedikit dari mereka yang rela dan siap bekerja apa saja asal tidak disebut pengangguran, misalnya bekerja menjadi pedagang di pasar tradisional, sopir, dan bahkan ada yang sampai menjadi tukang becak. Jika sudah seperti ini, nilai akademis yang dulunya dibanggakan sudah tidak ada artinya lagi.

Pada dasarnya, melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan pada intinya bukan untuk mencari pekerjaan, melainkan untuk menambah pengetahuan dalam ranah akademisi. Akan tetapi fakta yang ada berkata lain dan bukan lagi menjadi sesuatu yang dapat dipungkiri. Jika pemikiran terfokus pada masa depan, pekerjaan lah yang menjadi target utama setelah diwisuda. Apalagi bagi mereka yang background keluarganya adalah orang pedesaan, sudah barang pasti mendapatkan pekerjaan menjadi tuntutan yang wajib terlaksana setelah diwisuda. Tuntutan tersebut bisa muncul dari keluarga dan tetangga terdekat karena bagi mereka, setelah diwisuda peluang untuk mendapatkan pekerjaan terbuka lebar.

Menyandang status penganguran setelah diwisuda bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh kebanyakan mahasiswa, sehingga menjadikan mereka lebih memilih beralama-lama di bangku perkuliahan untuk menghindari status baru yang tidak dinginkan dan untuk menghindari tuntutan keluarga atau pun tetangga. Justru apa yang menjadi pilihan mereka tersebut merupakan pilihan yang tidak salah, karena jika sudah dinyatakan layak secara akademis untuk diwisuda, maka kita harus mampu bersaing dengan dunia luar bukan berdiam diri tanpa menunjukan prestasi yang dimiliki dengan belama-lama dibangku perkuliahan. Jika pemikiran tersebut dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin lagi selamanya akan menjadi pengangguran dan tertinggal.

Melihat nasib buram para wisudawan sekarang, perlu sekali adanya bantuan dari pihak pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang diharapkan mampu menampung para generasi berkualitas tersebut, karena melihat sulitnya lowongan kerja merupakan factor penyebab semakin meningkatnya angka pengangguran. Jika hal tersebut terimplementasikan, maka bukan tidak mungkin lagi angka pengangguran akan jelas berkurang. Selain lapangan kerja yang perlu diperbanyak, pemahaman akan tujuan mencari ilmu dari pihak orangtua atau orang terdekat pun sangat diperlukan agar anak-anak mereka yang sejatinya sudah siap untuk diwisuda tidak memilih untuk berlama-lama di bangku perkuliahan.

0 komentar