Ziarah Kubur yang Dialih Artikan

Akar info - Ziarah Kubur yang Dialih Artikan

Melihat kenyataan budaya yang ada sekarang ini 

banyak sekali budaya-budaya sendiri yang disabotase oleh budaya luar, lihat saja pola perilaku remaja sekarang yang bisa dikatakan sebagai pola perilaku kebarat-baratan akibat dari campur tangan budaya luar. Namun tidak semua budaya terpinggirkan oleh budaya luar, sebut saja semisal budaya ziarah kubur yang biasa dan masih dilakukan oleh masyarakat banyak pada saat ini. Tidak sedikit masyarakat yang masih membudayakan ziarah kubur tersebut, dimana tujuannya adalah untuk mendoakan atau mengenang jasa orang yang sudah meninggal, baik itu tokoh nasional atau pun tokoh agama.

Sebagaimana apa yang terlihat di makam para tokoh-tokoh nasional seperti presiden pertama sampai yang ke empat yaitu KH.Abdur Rahman Wahid atau biasa dipanggil Gusdur, di jombang jawa timur. Pada hari-hari biasa ( selain sabtu dan minggu) terbilang ada satu ribu orang yang pergi berziarah ke makam beliau. Jika pada hari-hari biasa saja bisa mencapai satu ribu orang, bagaimana dengan hari-hari liburnya? Sudah dapat dipastikan antusiasme masyarakat yang akan datang untuk berziarah tidak terhitung banyaknya pada hari-hari libur seperti sabtu dan minggu. Tidak hanya makam para tokoh-tokoh nasional saja yang dijadikan tempat untuk melakukan ziarah kubur oleh masyarakat, melainkan juga makam tokoh-tokoh agama seperti Wali Songo yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan Agama Islam di Indonesia. Hal itu terbukti pada saat musim ziarah tiba dimana orang-orang dari setiap daerah yang ada di Indonesia akan membludak memenuhi lingkungan makam wali songo untuk melakukan ziarah kubur agar mendapatkan berkah dari do’a yang mereka bacakan untuk para Waliulloh tersebut. Hal ini seakan-akan menegaskan bahwasanya tidak semua budaya yang ada menjadi termarjinalkan oleh budaya luar.


Hanya saja ziarah kubur pada saat ini dialih artikan oleh sebagian masyarakat. Dimana pada mulanya ziarah kubur dilakukan untuk mendo’akan atau mengenang jasa tokoh-tokoh yang sudah meninggal, kini berubah menjadi ajang untuk mencari keuntungan dengan cara yang salah. Artinya, tidak sedikit dari masyarakat yang melakukan ziarah kubur hanya untuk mendapatkan pesugihan, misalnya para penggila judi togel. Para penggila togel ini biasanya rela berlama-lama di makam yang dianggapnya keramat dengan harapan mendapatkan wangsit untuk kemenangan dalam berjudi.

Ironis memang, dimana yang pada dasarnya ziarah kubur dilakukan untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal, malah dijadikan sebagai ajang mencari keuntungan yang justrunya hal tersebut bertolak belakang sekali dengan norma agama. Agama tidak pernah menganjurkan untuk berdiam diri dengan waktu yang lama di makam agar harapan menjadi kaya tercapai, karena hal tersebut merupakan bentuk syirik atau menyekutukan sang Khaliq. Jika hal ini dibiarkan maka akan berdampak negative baik bagi mereka atau pun keluarga mereka, karena perbuatan tersebut mengarah pada perilaku malas bekerja sehingga keluarga pun terbengkalai, dimana kebutuhan lahir anak-istri tidak tersampaikan, dan pendidikan anak pun dikorbankan.

Secara syar'i, ziarah kubur harus memenuhi disyarat yang disyari'atkan oleh agam Islam, diantaranya adalah:

1. Tidak mengucapkan ucapan batil
2. Tidak melakukan safar dalam rangka ziarah
2. Tidak mengkhususkan waktu atau hari tertentu untuk pelaksanaannya.

Untuk meluruskan pemahaman terhadap ziarah kubur dikalangan masyarakat tersebut, diperlukan sekali adanya campur tangan tokoh-tokoh agama atau ulama’ dengan memberikan penjelasan terkait dengan pemahaman yang salah tentang ma’na ziarah kubur itu sendiri. Selain itu diperlukan juga tindakan tegas dari pemerintah karena hal ini berkaitan dengan hak anak dan istri untuk bertahan hidup dan tanggung jawab seorang kepala rumah tangga. Maka jika semua itu terealisasikan, tentunya tidak akan ada lagi orang-orang yang mengalih artikan ma’na ziarah dan keluarga pun akan sejahtera.

0 komentar