Antara Konsep Recruitment dan Perjodohan

Konsep Recruitment

Rekrutmen sama halnya dengan perjodohan,

meskipun pada dasarnya kita sudah memiliki keyakinan bahwasanya jodoh sudah ada yang menentukan (Tuhan). Namun disini bukan berarti kita harus berdiam diri dengan hanya menunggu tanpa melakukan aktifitas menjemput bola. Jodoh bukan untuk ditunggu melainkan harus dicari karena dari jodoh itulah muncul satu harapan membentuk keluarga yang harmonis, bahagia dan sejahtera lahir batin selama-lamanya. Agama sendiri mengajarkankita untuk terus berusaha atau berikhtiar dalam mencapai apa yang menjadi tujuan hidup kita. Masak untuk urusan jodoh kita harus berdiam diri tanpa ada usaha untuk mendapatkannya?!

Oleh karenanya konsep mencari jodoh adalah harus menentukan terlebih dahulu KRITERIA yang diinginkan, seperti agamanya, kepribadiannya, fisiknya, keturunannya, usianya atau mungkin juga harta dan jabatannya. Karena hal tersebut diupayakan agar bahtera rumah tangga berjalan seiring sejalan, mengingat sudah dilakukan penyesuaian kriteria di awal.

Muncul pertanyaan mengapa harus menentukan kriteria yang diinginkan? Jawabannya adalah karena jika keliru dalam menentukan kriteria akan berakibat tidak tercapainya tujuan membentuk keluarga yang harmonis, bahagia dan sejahtera lahir bathin yang akhirnya akan berujung pada perceraian. Oleh karena itu, akan sangat penting rasanya untuk lebih selektif lagi dalam mencari jodoh demi masa depan yang indah.

Bercermin kepada konsep perjodohan di atas, hampir terlihat ada kemiripan antara proses recruitment dan perjodohan. Mengingat konsep recruitment adalah "Karyawan direkrut BUKAN untuk di PHK, namun untuk DIKEMBANGKAN sehingga mampu berkontribusi dalam mengembangkan perusahaan, dan membantu untuk mencapai visi dan misi perusahaan". Intinya dari kedua konsep tersebut sama-sama menentukan kriteria untuk mendapatkan jodoh atau kandidat yang sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Dalam proses rekrutmen ada 2 aktor utama, pertama adalah perusahaan sebagai pencari tenaga kerja dan kedua adalah pelamar sebagai pencari kerja. Fenomena yang terjadi saat ini bahwa begitu banyak lowongan kerja maupun pencari kerja, namun begitu sulit pula perusahaan mendapatkan pelamar yang sesuai dengan kualifikasi yang diharapkan. Rekrutmen merupakan upaya untuk mendapatkan orang yang tepat bagi suatu jabatan tertentu, sehingga orang tersebut mampu bekerja secara optimal dan dapat bertahan di perusahaan untuk waktu yang lama. Meskipun tujuannya terdengar sangat sederhana, proses tersebut ternyata sangat kompleks, memakan waktu cukup lama dan biaya yang tidak sedikit dan sangat terbuka peluang untuk melakukan kesalahan dalam menentukan orang yang tepat.

Kesalahan dalam memilih orang yang tepat sangat besar dampaknya bagi perusahaan atau organisasi. Hal tersebut bukan saja karena proses rekrutmen itu sendiri telah menyita waktu, biaya dan tenaga, tetapi juga karena menerima orang yang salah untuk suatu jabatan akan berdampak pada efisiensi, produktivitas, dan dapat merusak moral kerja pegawai yang bersangkutan dan orang-orang di sekitarnya. Sehingga hal tersebut keluar dari konsep rekrutmen itu sendiri. Jika produktifitas tidak bisa dicapai, dan etos kerja karyawan tidak bisa diperbaiki, maka bukan tidak mungkin perusahaan tersebut akan gulung tikar.

Oleh karena itu, maka tidak salah jika baik perjodohan atau pun rekrutmen mengharuskan adanya kriteria dalam proses seleksinya. Hal tersebut untuk menghidari kesalahan dalam memilih pasangan atau pun kandidat yang melamar. Jadi jika ingin lolos, baik sebagai calon pasangan atau pun calon karyawan, pastikan kita sesuai dengan kriteria yang diharapkan, karena selektif bukan berarti diskrimatif, melainkan bertujuan untuk menempatkan seseorang pada tempat yang tepat. Agar apa yang menjadi harapan bersama di masa akan datang, lebih mudah untuk dicapai.

0 komentar