Waspada Penularan Stres Pada Bayi

Penularan Stres Pada Bayi

Bayi memiliki keterbatasan

dalam mengerti apa yang kita katakan. Bahkan tentunya mengalami kesulitan dalam memahami setiap kata yang kita ucapkan. Namun demikian, bayi memiliki kemampuan dalam menangkap emosi atau mood orang yang menjadi sosok perhatiannya. Jadi bukan tidak mungkin bagi bayi untuk merasakan stres saat melihat orang tuanya dalam keadaan stres. Seperti yang disampaikan oleh Andrew Garner MD, asisten profesor di Case Western Reserve University School of Medicine, bahwa bayi memiliki kepekaan yang tinggi. Sehingga saat orang lain dalam keadaan stres, maka bayi pun akan mengalami kondisi stres seperti yang dialami orang lain tersebut.

Penularan stres ini biasa terlihat pada bayi yang berumur 2 tahun. Menurut Sandra Weiss, PhD, DNSc, RN, FAAN, merupakan salah seorang peneliti yang mengatakan hasil penelitiannya mempertegas hal tersebut. Yang lebih menghawatirkan lagi, stres yang terlalu lama dialami oleh bayi ini akan berdampak pada perkembangan otak bayi. Hormon stres yang terus mengisi otak anak akan berdampak buruk pada otak serta akan menyakiti fungsi otak anak dalam banyak hal, diantaranya:

1. Gangguan koneksi sirkuit otak

Stres buruk pada anak dapat mengganggu koneksi sirkuit otak anak dan mengarah kepada kegagalan perkembangan otak kecil. 

2. Mengurangi respon imun

Hormon stres tingkat tinggi bisa mengurangi respon imun tubuh, dan akan mengarah ke masalah kesehatan kronis yang akan dialami oleh anak. 

3. Mempengaruhi area otak

Selain itu, hormon stres tingkat tinggi juga bisa mempengaruhi area penting pada otak yang berfungsi untuk proses belajar dan menyimpan memori.

Dari pemaparan di atas. Akan sangat penting bagi kita untuk selalu menjaga emosi dan mood saat berhadapan dengan bayi. Karena hal tersebut diupayakan untuk menghindari kegagalan pada perkembangan otak sang anak sendiri. Namun, bukan berarti stres apa pun yang kita alami akan berdampak buruk pada bayi. Stres kecil dan menengah cenderung mudah terabaikan dan tidak akan berdampak buruk pada perkembangan otak anak. Akan tetapi jika stres tersebut muncul secara berulang-ulang, akan berakibat fatal pula. Dalam merawat anak, kita harus mengajarkan anak bagaimana cara menenangkan diri dan menghadapi stres yang dialami. Semakin sedikit stres yang dihadapi anak, maka bukan tidak mungkin anak akan memberikan respon positif terhadap kita. Selain itu juga akan memperbaiki nafsu makan, dan istirahat anak.

Stres tidak bisa kita hindari  begitu saja. Begitu banyak tekanan yang dihadapi para orangtua, baik diluar ataupun di dalam rumah, tanpa sadar hal tersebut akan memicu perilaku yang kurang mengenakkan dan energi negatif yang akan diterima oleh anak. Saat orangtua terlalu banyak memikirkan masalah dan tekanan yang dihadapi dan hal tersebut tidak ada korelasinya dengan si anak, maka secara psikologis anak akan merasa tidak diperhatikan yang berujung membuatnya merasa ditinggalkan dan takut.

Selain memiliki kemampuan dalam menangkap emosi. Anak-anak juga mengalami proses belajar dari meniru perilaku orang tuanya. Cara orangtua dalam menghadapi stres akan ditiru oleh si anak. Jika orangtua yang dalam menghadapi tekanan berupaya bersikap tenang, maka anak-anak pun akan meniru perilaku tenang yang diperlihatkan oleh orang tuanya. Mereka juga belajar dari manajemen stres yang salah, seperti berteriak, gaya hidup tidak sehat, dan menyendiri. Oleh karena itu, akan sangat penting bagi orang yang mengharapkan tumbuh kembang anak tidak mengalami masalah, untuk selalu menjaga emosi dan selalu bersikap tenang saat berada di dekat sang buah hati.

0 komentar