Menjamurnya Kasus Bullying

Stop Bullying

Kasus bullying



yang kerap terjadi di Indonesia, seakan-akan tidak bisa terbendung lagi. Kenapa tidak, sudah banyak berita perihal kasus bullying tersebut, baik dari station TV nasional, sampai dengan media social berbondong-bondong menyajikan berita kasus bullying yang terjadi di Negara kita ini. Seperti contoh, yang masih segar adalah kasus bullying yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa kepada temannya yang disinyalir merupakan mahasiswa berkebutuhan khusus. Selain itu ada juga anak SMP yang membully temennya dengan tindakan kurang terpuji seperti menarik rambut sampai si korban diminta untuk mencium tangan dan kaki para pelaku bullying.

Miris memang jika melihat generasi penerus bangsa dengan sangat santai bahkan bergembira dengan memperlihatkan perilaku kurang terpuji tersebut. Generasi muda yang dipercaya untuk melanjutkan estafet bangsa, malah mencoreng jati diri bangsa dengan tindakan-tindakan yang tidak terpuji seperti yang tersebut di atas. Sebenarnya apa yang terjadi dengan penerus bangsa ini, dan apa penyebab mereka berperilaku seperti itu??.

Bullying merupakan tindakan menyimpang untuk mempermalukan orang lain dengan cara menyerang fisik dan mental korban melalui peleceh** atau penyerang**. Dan yang mendasari tindakan bullying ini adalah keinginan untuk dianggap kuat, dan hebat dalam lingkungan sekitar mereka. Bulliying sendiri merupakan kebiasaan berperilaku buru** yang tentunya dapat merugikan semua pihak jika tidak segera ditangani secara maksimal. Karena dampak dari tindakan bulliying ini akan berdampak pada luka fisik, trauma, bahkan sampai pada kematian. Secara Psikologis ada dua dampak yang sangat ditakutkan dalam kasus bulliying itu sendiri, diantaranya adalah:

Trauma Psikis

Secara psikis, korban bullying akan mengalami trauma akibat dari tindakan kekerasan tersebut, mental korban akan melemah dan akan mengalami ketakutan yang berlebihan. Karena penyerang** dalam kasus bulliying sendiri bukan hanya pada fisik saja, melainkan juga mental korban. Korban akan lebih memilih untuk mengasingkan diri dari pada harus tampil di muka umum. Selain itu, korban akan berperilaku antisosial di lingkungannya.

Munculnya perilaku yang sama

Tidak sedikit pelaku bullying sendiri adalah merupakan korban bulliying sebelumnya yang pernah dia alami. Ketertekanan mental akan menyebabkan mereka berupaya untuk merasakan menjadi “pelaku” dan berusaha menutupi persepsi kelemahan mereka. Mereka akan berusaha memproyeksikan diri mereka sebagai pelaku bullying yang pernah melakukan tindakan tersebut kepada mereka sebelumnya. Bahkan perilaku yang dimunculkan oleh pelaku yang notabene mantan korban bullying, akan lebih berbahaya dari tindakan pelaku sebelumnya. Jadi bukan lagi penyerang** mental atau emosional, melainkan juga bisa sampai pada penyerang** fisik dan bahkan sampai pada kematian.

Jadi, akan sangat penting sekali untuk kita melakukan pencegahan atau pemutusan rantai kasus bulliying ini sedini mungkin. Karena dampak yang dimunculkan dari kasus tersebut akan sangat memperihatinkan bagi kelanjutan bangsa ini. Kerusakan mental generasi muda akan mempermudah mereka untuk melakukan tindakan-tindakan kekeras** terhadap orang lain. Adapun beberapa pencegahan yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan pendekatan secara persuasive. Pihak orang tua agar lebih memberikan perhatian penuh terhadap tumbuh kembang anak-anaknya, dan usahakan anak-anak merasa nyaman dan aman dalam lingkungan terkecilnya yaitu keluarga. Dan dari sisi Pendidikan akan sangat penting lagi untuk memberikan materi-materi yang bersifat prososial, dan setiap guru memberikan arahan bagaimana cara mengaplikasikannya dalam lingkungan social mereka. Jadi untuk pencegahan menjamurnya kasus bullying ini tidak harus menunggu peran pemerintah, tapi juga diperlukan campur tangan kita sendiri sebagai orang tua dan sosok pendidik di lingkungan sekolah. Mari kita sama-sama perangi kasus bullying ini, agar anak cucu kita kelak menjadi penerus bangsa yang patut untuk dibanggakan.

0 komentar