Social Learning

Akar Info - Social Learning

Dari sejak kecil kita sudah membiasakan diri dengan melakukan permainan dengan teman sebaya atau sekedar kumpul-kumpul dengan candaan atau gesekan emosi khas anak-anak. Mungkin pada saat itu, hal-hal sepele yang pernah kita lakukan seperti di atas terkesan tidak memiliki unsur edukasi. Namun jika kita sadari dan pelajari lebih mendalam, bahwa dari hal-hal sepele seperti di atas akan membentuk cara pandang dan perilaku kita terhadap lingkungan sekitar dikemudian hari. Karena hal-hal sepele yang pernah kita lakukan diwaktu kecil tersebut merupakan proses awal kita dalam melakukan tahapan social learning untuk kehidupan kita di masa depan.

Permainan atau gesekan emosi yang pernah kita alami sewaktu masih kecil merupakan salah satu indicator proses awal kita dalam menerapkan social learning untuk kehidupan yang kita jalani. Interaksi yang kita lakukan setiap hari dengan lingkungan kita dulunya, merupakan manifestasi yang akan membentuk perilaku kita pada saat ini. Disadari atau tidak, selama kita melakukan interaksi dan mengamati teman sebaya kita dulu, akan menstimulasi fikiran kita yang nantinya akan menambah manifestasi persepsi-persepsi kita tentang kehidupan (proses kognitif). Sehingga manifestasi tersebut akan membentuk perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut salah satu tokoh Psikologi aliran behaviorisme (Albert Bandura). Dimana kondisi lingkungan sekitar sangat dominan dalam pola social learning. Lingkungan disekitar individu akan membentuk perilaku dengan cara memberikan pencotohan secara langsung (Modeling) kepada individu itu sendiri. Sehingga dari hasil pengamatan yang dilakukan terhadap lingkungan sekitar akan memunculkan proses kognitif yang nantinya akan membentuk perilaku sesuai dengan apa yang difikirkan. Karena proses modeling sendiri bukan hanya mencocokkan perilaku yang dimunculkan oleh orang lain saja, melainkan juga mempresentasikan secara simbolis suatu informasi sebagai manifestasi untuk digunakan di masa depan.

Socal learning sendiri bukan hanya terjadi dilingkungan teman sebaya saja. Melainkan juga di lingkungan terkecil kita, yaitu keluarga. Seorang anak akan lebih banyak meniru sosok yang menurut mereka memiliki karakteristik yang dominan. Jadi akan sangat penting sekali bagi orang tua untuk memberikan pembelajaran positif untuk pembetukkan karakter anak-anak mereka. Lingkungan keluarga yang harmonis tentunya akan dapat memberikan pembelajaran positif bagi pembentukkan karakter anak. Oleh karena itu, perlu sekali bagi orang tua untuk membangun keluarga yang harmonis untuk masa depan anak-anak mereka [baca juga: Konsep Keluarga Sakinah Dalam Islam]. Agar keluarga yang dibangun sesuai dengan apa yang menjadi pengharapan sebagian banyak keluarga di dunia ini.

Sebagaimana pendapat yang disampaikan oleh tokoh filusuf Aristoteles (384 – 322 sebelum masehi), dimana manusia merupakan zoon Politician atau makhluk bersosial. Tentunya pendapat tersebut menegaskan bahwa manusia akan terus melakukan upaya social learning dalam kehidupan sehari- hari, dari sejak kecil sampai manusia kembali pada Sang pencipta. Karena sudah menjadi kondrat manusia sebagai makhluk bersosial yang akan terus melakukan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Baik lingkungan pergaulan, ataupun lingkungan kecil mereka, yaitu keluarga.

Dari pemaparan perihal social learning di atas. Dapat kita ambil kesimpulan bahwa perilaku kita saat ini merupakan simbolis dari manifestasi pengamatan kita terhadap lingkungan sekitar. Sehingga akan lebih bagi orang dalam membentuk karakter anak-anak mereka sesuai dengan yang diharapkan, jika kita sebagai orang tua memahami tahapan-tahapan yang diperlukan dalam social learning itu sendiri. Semoga apa yang tertulis dalam pembahasan di atas, dapat memberikan tambahan informasi bagi kita semua.

0 komentar